Miniatur Kapal Pinisi Sudah Berlayar ke Malaysia


TEMPO.CO, Bandung -Kapal Pinisi buatan Suku Bugis dan Mandar asal Sulawesi Selatan telah berlayar ke Semenanjung Mandagaskar, Jepang hingga Australia. Kegagahan kapal Pinisi mengarungi samudura menjadi  simbol penjelajah laut Indonesia. 



Kini, kapal  yang termasyur karena kegagahannya di laut telah dibuat miniaturnya. Adalah Saefulloh, pemuda asal  Desa Cikole Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat membuat miniatur  kapal Pinisi untuk dijadikan buah tangan khas Indonesia.



"Miniatur kapal yang menjadi simbol sejarah pelaut Indonesia ini tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tapi juga sudah berlayar hingga ke  Malaysia," kata Saefulloh yang akrab disapa Kang Ipul kepada Tempo beberapa waktu lalu.



Miniatur Pinisi itu dibuat dari bahan batang bambu. Kebetulan di Jawa Barat banyak sekali tumbuh pohon bambu, terutama di Subang. Menurut Kang Ipul, pohon bambu memiliki berjuta manfaat. Misalnya bisa dibuat  dinding rumah, tempat tidur, alat musik hingga barang kerajinan.



Kang Ipul memilih bambu Pringgadani dan bambu ukuran kecil lainnya berhasil diolah menjadi miniatur kapal Pinisi. Cara membuat miniatur Pinisi, kata Ipul, bambu harus dijemur dulu agar warnanya cerah. Lalu Bambu itu dipisahkan dari daging dan kulitnya.



"Daging bambu dijadikan sebagai alas sedangkan badan kapalnya terbuat dari kayu," kata lelaki yang sejak 2002 sudah berkreasi dengan kerajinan bambu.



Lalu, pola Pinisi dibuat menggunakan pisau rajut dan dipasangkan bambu tipis sebagai tiang dan kulit bambu sebagai layarnya. Supaya hasilnya maksimal, bambu dipoles dengan warna senada agar terlihat lebih natural.



Proses pembuatan miniatur pinisi yang berukuran 15 - 30 cm ini juga memiliki kesulitan tersendiri.  Epin Mutaqin, 23 tahun, salah seorang karyawan Saefulloh mengatakan, untuk membuat miniatur pinisi itu harus teliti. "Bagian tersulitnya itu ketika membuat rangka detail seperti layar, dek kapal dan ornamen pelengkap lainnya,"  kata Epin.



Kini, miniatur Pinisi dengan merek Efrin itu  banderol mulai  Rp 15.000 - Rp 50.000, sesuai dengan  ukuran.  Dengan modal limbah bambu,  Ipul bisa meraup omset sekitar Rp 80 juta per bulan. "Bahan bakunya gampang dicari, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi kerajinan menarik dan berguna," kata Ipul.



Tak hanya miniatur Pinisi, Ipul juga  membuat produk lain dari bahan  bambu seperti pensil, pulpen, lampu meja, hingga barang kenangan dari suatu negara seperti Twin Tower Petronas Malaysia, hingga Burj Al Arab Dubai.



Barang-barang  tersebut dipajang di outletnya di  Jalan Tangkuban Perahu 590/272 Desa Cikole Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Jarak tempuh dari pusat kota Bandung sekitar 29 km arah utara, atau 13 km dari Lembang ke arah kabupaten Subang.



Lokasi yang berdekatan dengan objek wisata Tangkuban Perahu membuat rumah produksinya kerap dikunjungi wisatawan. Wima Sulistyowati, wisatawan asal Jakarta mengaku terkesan dengan miniatur kapal  Pinisi buatan Saefulloh. "Bentuknya kecil, unik dan bagus untuk pajangan di rumah, saya beli beberapa untuk oleh-oleh," kata Wima.



RISANTI



You're reading an article about
Miniatur Kapal Pinisi Sudah Berlayar ke Malaysia
This article
Miniatur Kapal Pinisi Sudah Berlayar ke Malaysia
can be opened in url
http://beritaendogen.blogspot.com/2013/01/miniatur-kapal-pinisi-sudah-berlayar-ke.html
Miniatur Kapal Pinisi Sudah Berlayar ke Malaysia

Title Post: Miniatur Kapal Pinisi Sudah Berlayar ke Malaysia
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author: Berita endogen

Thanks for visiting the blog, If any criticism and suggestions please leave a comment

0 komentar:

Poskan Komentar